:: Puspen TNI Resmi Tanggapi Iwan Bopeng, Perbuatannya Dilakukan Tidak Hanya di Satu TPS || Posting Bantuan Banjir, Fanspage DivHumasPolri Diserbu Komentar Miring || Prof. Yusril: Mudah-Mudahan Keterangan Saya Bisa Hentikan Kasus Habib Rizieq Petik Hikmah 2017 :: Petik Hikmah: Petik Hikmah

Ads

Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Comments

Facebook

Elegant Themes

Ad Home

Breaking News

Design

Random Posts

Recent Posts

Header Ads

Featured
Most Popular

Lorem

Lorem Ipsum

Beauty

Lorem Ipsum

About This Blog

Follow us on facebook

Featured

About Me

Business

Advertisement

Follow Us

Sponsor

Popular Posts

Services

Featured Video

I Am The Author

Showing posts with label Petik Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Petik Hikmah. Show all posts

Tuesday, January 31, 2017

Begini Caranya Agar Anak Hafal Al-Qur’an Sebelum Usia 7 Tahun

- No comments



 Begini Caranya Agar Anak Hafal Al-Qur’an Sebelum Usia 7 Tahun


Petik Hikmah - Saudaraku, inilah kiat-kiat praktis mendidik putra-putri kita hafal Al-Qur’an sebelum usia 7 tahun. Kiat-kiat ini disampaikan oleh Syekh Dr. Kamil Al Labudi, 29 Ramadhan 1437 H.
Kiat-kiat ini disampaikan beliau berdasarkan pengalaman beliau dalam mendidik ketiga putra/putri beliau hafal Al-Qur’an 30 juz dalam usia 4,5 tahun. Semua putra/putri beliau hafal Al-Qur’an 30 juz sebelum usia mereka 5 tahun.
  1. Tabarok hafal 30 juz ketika usianya 4,5 tahun
  2. Yazid hafal 30 juz ketika usianya 4,5 tahun
  3. Zainah hafal 30 juz ketika usianya 5 tahun.
Inilah kiat-kiatnya:
  1. Ketika anak kita lahir, dari usia 1 hari perdengarkan al-Qur’an setiap harinya 1 juz dan ulangi sebanyak 5 kali. Ulangi terus selama satu bulan. Jadi dalam waktu 1 bulan 1 juz di ulang sebanyak 150 kali. Maka waktu yang diperlukan untuk menamatkan memperdengarkan Al-Quran sebanyak 30 juz hanya 30 bulan, yaitu 2,5 tahun. Ketika anak kita usianya 2,5 tahun dia sudah mendengarkan Al-Qur’an 30 juz sebanyak 150 kali.
  2. Pilihlah bacaan dari para Masyayikh, para Qori yang terkenal bacaannya fasih, seperti Qori Syekh Mahmud Kholil Al Hushori, Syekh Shiddiq Al Minsyawi, dll. Atau para Qori dari Saudi Arabia, seperti Syekh Ali Al Hudzaifi, Syekh Muhammad Ayyub, dll.
  3. Ketika anak kita sudah tamat mendengarkan bacaan al-Qur’an 30 juz, maka ajarkan hafalan kepadanya. Sehari setengah halaman atau satu halaman, ulangi setiap harinya sampai 5 kali.
  4. Buat cara yang menarik untuk anak kita agar mau menghafal, berikan hadiah ketika bisa mencapai target.
  5. Doa kepada Allah ta’ala agar dimudahkan dalam membimbing anak kita dalam proses menghafal al-Qur’an 30 juz.
Dengan metode seperti ini, hanya perlu waktu 1,5 tahun anak kita hafal al-Qur’an 30 juz.
Mudahan-mudahan Allah ta’ala berikan karunia-Nya kepada kita semua agar keluarga kita menjadi Ahlul Quran dan semoga putra-putri kita hafal al-Qur’an 30 juz dan berakhlaq dengan akhlaq al-Qur’an. Aamiin.

Sunday, January 29, 2017

PADA UMUR BERAPA ANAK DIBAWA KE MASJID?

- No comments


S: Seseorang dari Negeri Sudan bertanya: Apakah boleh seseorang pergi ke masjid bersama anak-anaknya yang masih kecil yang berumur belum sampai 4 tahun?

J: Anak-anak yang umurnya belum sampai 4 tahun, umumnya tidak bagus ketika sholat, karena mereka belum tamyiz. Umur tamyiz biasanya 7 tahun. Nabi r memerintahkan kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat, jika mereka telah sampai pada umur ini. Nabi r bersabda:


 ((Ù…ُرُوا Ø£َÙˆْلاَدَÙƒُÙ…ْ Ø£َÙˆْ Ø£َبْÙ†َاءَÙƒُÙ…ْ بِالصَّلاَØ©ِ لسَبْعٍ))


“Perintahlah anak-anak kalian untuk sholat pada umur 7 tahun!”
Jika anak-anak yang berumur 4 tahun ini tidak bisa sholat dengan baik, maka tidak sepantasnya orang tuanya membawa mereka ke masjid, kecuali ketika ada perkara dharurah (sangat mendesak), seperti kalau tidak ada di rumahnya seorangpun yang menjaga anak kecil ini. Maka dia membawanya dengan syarat anak tadi tidak mengganggu orang-orang yang sholat. Jika anak itu mengganggu orang-orang yang sholat, janganlah orang tuanya membawanya.

Jika anak kecil itu butuh untuk ditemani di rumah, dalam keadaan ini orang itu diberi udzur untuk meninggalkan jama’ah, karena dia tidak ikut jamaah karena udzur, yaitu menjaga anak.

(Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb No. 643, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Saturday, January 28, 2017

"Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat Yang Adil dan Pilihan."

- No comments

Petik Hikmah - Keadilan merupakan tuntutan akal dan juga syariat. Keadilan adalah tidak berlebihan-lebihan, tidak melampui batas, tidak memboros-boroskan, dan tidak menghambur-hamburkan. Maka, barangsiapa menginginkan kebahagiaan, ia harus senantiasa mengendalikan setiap perasaan dan keinginannya. Dan ia harus pula mampu bersikap adil dalam kerelaan dan kemurkaannya, dan juga adil dalam kegembiraan dan kesedihannya. Betapapun, tindakan berlebihan dan melampui batas dalam menyikapi segala peristiwa merupakan wujud kezaliman kita terhadap diri kita sendiri. 


      Dubai, betapa bagusnya keadilan itu! Betapa tidak, syariah senantiasa ditetapkan dengan prinsip keadilan. Demikian pula dengan kehidupan ini: ia pun berjalan sesuai dengan konsep keadilan pula. Manusia yang paling sengsara adalah dia yang menjalani kehidupan ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya. Pada kondisi yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa menjadi sedemikian berat dan sangat membebani, seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin gelap gulita, dan kebencian, kedengkian serta dendam kesumat pun mudah bergolak di dalam hatinya. 


Dan akibatnya, semua itu membuat seseorang hidup dalam dunia khayalan dan ilusi. Ia akan memandang setiap hal di dunia ini musuhnya, ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang di sekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya, dan ia akan selalu dibayangi rasa was-was dan kekhawatiran bahwa dunia ini setiap saat akan merenggut kebabagiannya. Demikianlah, maka orang seperti itu senantiasa hidup di bawah naungan awan hitam kecemasan, kegelisahan dan kegundahan. 




      Menyebarkan desas-desus yang dapat menggelisahkan orang lain sangat dilarang oleh syariat dan termasuk tindakan murahan. Dan itu, hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang miskin nilai-nilai moral dan jauh dari ajaran-ajaran ketuhanan. Begitulah, maka 


{Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya).} 

(QS. Al-Munafiqun: 4) 

      Dudukkanlah hati Anda pada kursinya, niscaya kebanyakan hal yang dikhawatirkannya tak akan pernah terjadi. Dan sebelum sesuatu yang Anda cemaskan itu benar-benar terjadi, perkirakan saja apa yang paling buruk darinya. Kemudian, persiapkan diri Anda untuk menghadapinya dengan tenang. Dengan begitu, Anda akan dapat menghindari semua bayanganbayangan menakutkan yang acapkali sudah mencabik-cabik hati sebelum benar-benar terjadi. 


     Wahai orang yang berakal dan sadar, tempatkan segala sesuatu itu sesuai dengan ukurannya. Jangan membesar-besarkan peristiwa dan masalah yang ada. Bersikaplah secara adil, seimbang dan jangan berlebihan. Jangan pula larut dalam bayang-bayang semu dan fatamorgana yang menipu! 


      Camkanlah makna keseimbangan antara kecintaan dan kebencian yang diajarkan dalam hadits Rasulullah berikut: "Cintailah orang yang Anda cintai sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi musuhmu. Dan, bencilah musuhmu sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi orang yang Anda cintai."
Renungkan pula firman Allah berikut, 


{Mudah-mudah Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan, Allah Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.}

(QS. Al-Mumtahanah: 7) 

Dan ingat, sesungguhnya kebanyakan kekhawatiran dan desas-desus itu sedikit kebenarannya dan jarang pula yang benar-benar terjadi.

Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan Bumi!

- No comments

Petik Hikmah - Jika selama di dunia ini Anda menderita kelaparan, jatuh miskin, senantiasa dilanda kesedihan, menderita penyakit yang tak kunjung sembuh, selalu mengalami kerugian, atau diperlakukan secara zalim, maka ingatkan diri Anda pada kenikmatan surga yang lebih kekal abadi. Apabila Anda benar-benar meyakini "jalan" ini dan mengamalkannya dengan benar, niscaya Anda akan mampu merubah setiap kerugian menjadi keuntungan dan setiap bencana menjadi nikmat. Orang yang paling berakal adalah yang senantiasa melakukan sesuatu untuk akhirat dengan keyakinan bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal abadi. Sebaliknya, manusia yang paling bodoh di dunia adalah mereka yang memandang dunia ini sebagai segalanya: tempat dan tujuan akhir dari semua harapan. 





      Karena itu, tidak mengherankan bila Anda melihat mereka adalah orang-orang yang paling gelisah ketika menghadapi suatu musibah dan paling mudah larut dalam penyesalan saat malapetaka merenggut semua milik mereka. Itu semua, tak lain dikarenakan mereka hanya memandang, memikirkan, mementingkan dan hanya berbuat segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia yang sangat singkat, fana, dan tidak bernilai ini. Bahkan, seolah-olah mereka tak rela sedikitpun keceriaan dan kegembiraan mereka di dunia ini terkotori dan terusik oleh hal apapun. Padahal, seandainya mereka melepas tabir kesedihan yang menutupi hati mereka dan membuka katup kebodohan yang menempel di mata mereka itu, niscaya mereka akan berbicara kepada jiwa mereka tentang masih adanya tempat tinggal yang kekal abadi (akhirat), pelbagai kenikmatan di dalamnya, dan juga tentang istana-istananya yang megah. Lebih dari itu, mereka juga akan senantiasa terdiam khidmat mendengarkan penjelasan-penjelasan wahyu Ilahi tentang alam lain yang lebih kekal abadi. Dan sesungguhnya —demi Allah— alam itulah yang sebenar-benarnya tempat kembali (rumah) yang layak untuk diperhatikan dan diraih dengan usaha yang keras.
Pernahkah kita merenungkan secara mendalam bahwa sesungguhnya para penghuni surga itu tak akan pernah sakit, tak mungkin bersedih hati, tak bakal mati, tak pernah menjadi tua, dan pakaian mereka tak akan lusuh sedikitpun? 




      Pernahkah kita menghayati wahyu Ilahi yang menyatakan bahwasanya para penghuni surga itu akan menempati istana-istana yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari mar? Pernahkah kita mengingatkan diri kita dengan kebenaran berita Ilahi yang mengatakan bahwa di surga terdapat semua hal yang tidak pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di dalam hati manusia? Cobalah Anda renungkan kabar Ilahi yang menyatakan bahwa sebatang pohon di surga tak akan selesai dikelilingi oleh seorang pengendara kendaraan selama seratus tahun lebih! Ingatkan pula diri Anda bahwa panjang sebuah kemah yang didirikan di surga dapat mencapai tujuh puluh mil lebih, sungaisungainya mengalir dengan deras, istana-istananya sangat indah nan megah, buah-buahannya menggelayut rendah hingga mudah dipetik, mata airnya mengalir deras, tahta-tahtanya demikian tinggi, gelas-gelasnya tertata rapi, bantal-bantal sandarannya tersusun rapi, dan permadani-permadaninya terhampar luas! 

      Demikianlah, Anda seyogyanya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa di surga itu terdapat kesenangan yang sempurna, kegembiraan yang agung, dan semerbak wangi yang membuai hidung. Dan penjabaran tentang semua keistimewaan surga itu tak akan habis dalam waktu sesingkat ini. Pasalnya, di dalam surga terdapat pelbagai keinginan yang pasti dikabulkan. Maka dari itu, mengapa kita sering lupa memikirkan semua itu dan berbuat segala sesuatu untuk meraihnya? Renungkanlah!Apabila tujuan akhir dari perjalanan seorang manusia adalah "rumah" yang kekal abadi ini, niscaya setiap bencana akan terasa ringan, pelbagai beban kehidupan akan membuat mata tetap berbinar, dan seraua kesengsaraan hidup tetap dapat dijalani dengan riang hati. 


      Maka dari itu, wahai orang-orang yang merasa sedang dilindas kemiskinan, diliputi kesusahan, dan dililit berbagai macam kesulitan, teruslah berbuat kesalihan! Dengan begitu, niscaya kalian akan tinggal di surga Allah, berdekatan dengan-Nya dan senantiasa mensucikan nama-nama-Nya. Demikianlah, maka, 


{Salamun 'alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.} 

(QS. Ar-Ra'd: 24)

Terimalah Setiap Pemberian Allah dengan Rela Hati, Niscaya Anda Menjadi Manusia Paling Kaya

- No comments

Petik Hikmah - Sebelumnya, hal ini telah banyak dijelaskan; yakni beberapa makna dan faedah dari kerelaan hati seseorang dalam menerima setiap pemberian atau ketentuan Allah. Namun, kali ini saya akan membahasnya secara lebih panjang lebar untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Singkatnya, makna sikap ini adalah bahwa Anda harus rela hati dan puas dengan setiap pemberian Allah; baik itu yang berupa raga, harta, anak, tempat tinggal ataupun bakat kemampuan. Dan, makna inilah yang tersirat dari ayat alQur'an berikut, 


{Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.} 

(QS. Al-A'raf: 144) 

      Sebagian besar ulama salafus salih dan generasi awal umat ini adalah orang-orang yang secara materi termasuk fakir miskin. Mereka tidak memiliki harta yang berlimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi. Meski demikian, mereka ternyata mampu membuat kehidupan ini justru lebih bermakna serta membuat diri mereka dan masyarakatnya lebih bahagia. Yang demikian itu, adalah karena mereka senantiasa memanfaatkan setiap pemberian Allah di jalan yang benar. Dan karena itu pula, umur, waktu, dan kemampuan atau ketrampilan mereka menjadi penuh berkah. Kebalikan dari kelompok manusia yang diberkahi ini adalah mereka yang dikarunia Allah dengan kekayaan yang meruah, anak yang banyak, dan nikmat yang berlimpah. Tetapi semua itu justru menyebabkan diri mereka senantiasa merasa penuh penderitaan, kecemasan dan kegelisahan. Adapun penyebabnya, tak lain adalah karena mereka telah menyimpang dari fitrah dan tuntunan hidup yang benar. Ini menjadi bukti nyata bahwa segala sesuatu (kekayaan, anak, pangkat, jabatan, kehormatan dan lain sebagainya) adalah bukan segala-galanya. 


      Lihatlah, betapa banyak sarjana atau doktor yang tidak dapat memberi kontribusi, pemikiran dan pengaruh yang cukup bagi masyarakatnya. Namun sebaliknya; tak sedikit manusia yang dengan ilmu dan kemampuannya yang sangat terbatas justru mampu membangun sungai yang senantiasa mengalirkan manfaat, kebaikan, dan kemakmuran bagi sesama manusia. 


      Jika Anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk Anda, apapun kondisi keluarga Anda, bagaimanapun suara Anda, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman Anda, serta seberapapun penghasilan Anda. Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata, "Seyogyanya Anda senantiasa tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang Anda miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak Anda miliki."
Berikut ini adalah beberapa tokoh terkenal yang kehidupan duniawi mereka kurang beruntung. 


1. Atha' ibn Rabah, orang yang paling alim pada zamannya adalah seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting.
2. Ahnaf ibn Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun ini sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, melengkung betisnya dan lemah postur tubuhnya.3. al-A'masy, ahli hadits kenamaan di dunia ini adalah sosok manusia yang sayu sorot matanya dan seorang mantan budak yang fakir, compangcamping baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan rumahnya. 


     Bahkan, semua nabi dan rasul Allah adalah pernah menjadi penggembala kambing. Dan, meskipun mereka termasuk manusia-manusia pilihan Allah dan sebaik-baik manusia, pekerjaan mereka pun tak jauh beda dengan manusia pada umumnya. Nabi Daud adalah seorang tukang besi, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, dan Nabi Idris seorang tukang jahit. Kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang pilihan. 


     Ini mengisyaratkan bahwa harga diri Anda ditentukan oleh kemampuan, amal salih, kemanfaatan, dan akhlak Anda. Karena itu, janganlah Anda bersedih dengan wajah yang kurang cantik, harta yang tak banyak, anak yang sedikit, dan rumah yang tak megah! Singkatnya, terimalah setiap pembagian Allah dengan penuh kerelaan hati. 


{Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.} (QS. Az-Zukhruf: 32)

Jangan Sampai Hal-hal Yang Sepele Membinasakan Anda!

- No comments


  Jangan Sampai Hal-hal Yang Sepele Membinasakan Anda!

 

Petik Hikmah - Banyak orang bersedih hanya karena hal-hal sepele yang tak berarti. Perhatikanlah orang-orang munafik; betapa rendahnya semangat dan tekad mereka. Berikut ini adalah perkataan-perkataan mereka: 

{Janganlah kamu sekalian berangkat (pergi berperang) di dalam panas terik ini.} 

(QS. At-Taubah: 81) 

{Berilah kami izin (tidak pergi berperang) dan janganlah menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.} 

(QS. At-Taubah: 49) 

{Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).} 

(QS. Al-Ahzab: 13) 

{Kami takut akan mendapat bencana.}
(QS. Al-Ma'idah: 52) 


{Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.} 

(QS. Al-Ahzab: 12) 

      Sungguh, betapa sempitnya hidung-hidung mereka, betapa sengsaranya jiwa-jiwa mereka. Hidup mereka hanya pada sebatas soal perut, piring, rumah dan istana. Mereka tidak pernah mau menengadahkan pandangan mereka ke angkasa kehidupan yang ideal. Mereka juga tak pernah menatap bintangbintang keutamaan hidup. Kecemasan dan pengetahuan mereka hanya pada soal kendaraan, pakaian, sandal dan makanan. Coba perhatikan, betapa banyaknya manusia yang hidupnya dari pagi hingga sore hanya disibukkan oleh kecemasan dan kegelisahan mereka agar tidak dibenci isteri, anak atau kerabat dekatnya, atau agar tidak mendapat celaan, atau mengalami keadaan yang menyedihkan. Ini semua, pada dasarnya justru merupakan musibah besar bagi manusia-manusia seperti itu. Betapa mereka sama sekali tidak memiliki tujuan-tujuan yang lebih mulia yang seharusnya menyibukkan mereka, dan juga kepentingan-kepentingan agung yang seharusnya menyita seluruh waktu mereka. 


      Padahal, pepatah mengatakan: "Jika air telah keluar dari bejana, hawa kosong akan datang memenuhinya." Maka dari itu, bila Anda juga merasa seperti orang-orang tadi, renungkanlah kembali hal-hal yang selama ini telah menyita perhatian dan hidup Anda, atau bahkan membuat Anda resah setiap saat. Benarkah semuanya itu pantas memperoleh perhatian dan porsi yang sedemikian besar dalam hidup Anda? Mengapa Anda harus rela mengorbankan pikiran, daging darah, ketentraman dan juga waktu hanya untuk persoalan-persoalan sepele tadi? 


      Ibarat orang berjual beli, apa yang Anda lakukan itu sebenarnya suatu keculasan dan kerugian besar yang dibayar murah. Para ahli jiwa sering mengatakan, "Buatlah batasan yang rasional (wajar) untuk setiap hall" Dan lebih tepat dari kalimat ini adalah firman Allah, 


{Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.} 

(QS. Ath-Thalaq: 3) 

Yakni, letakkanlah setiap persoalan sesuai dengan ukuran, bobot dan kadarnya. Janganlah sekali-kali Anda melakukan kezaliman dan melampaui batas. 


      Ibaratnya, bila tujuan utama orang-orang yang berbakti kepada Allah (ketika berada dibawah sebuah pohon) adalah untuk berjual beli, maka mereka akan mendapatkan ridha Allah. Namun, bila salah seorang dari mereka hanya disibukkan dengan urusan untanya saja, hingga ia tak sempat ikut berjual beli, maka yang akan ia peroleh adalah hanya kebinasaan dan kegagalan. 


Abaikanlah hal-hal sepele yang tak penting. Jangan sampai Anda hanya disibukkan olehnya dan waktu Anda habis karenanya. Dengan begitu, niscaya Anda kegundahan dan kecemasan akan selalu menjauhi Anda. Dan Anda pun selalu riang ceria.

Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!

- No comments

Petik Hikmah - Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia, padahal mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka peroleb adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah ringgi dan penyakit aula. Mereka selalu merasa terlibat dengan semua peristiwa. Mereka marah dengan naiknya harga-harga, gusar karena hujan tak segera turun, dan kalang kabut tak karuan karena turunnya nilai mata uang. Mereka selalu berada dalam kegelisahan dan kesedihan yang tak berkesudahan. 


{Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.} 
(QS. Al-Munafiqun: 4) 

      Nasehat saya untuk Anda: jangan meletakkan bola dunia di atas kepala. Biarkan semua peristiwa itu terjadi, dan jangan disimpan di dalam usus. Orang yang memiliki hati seperti bunga karang akan menyerap semua isu dan kasak-kusuk, termakan oleh masalah-masalah kecil, dan mudah terguncang karena peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hati seperti ini sangat potensial menjadi awal kehancuran. 


      Mereka yang berpegang pada prinsip yang benar akan senantiasa bertambah keimanannya dengan nasehat-nasehat dan 'Ibrah. Sedangkan mereka yang berpegang pada prinsip yang lemah akan semakin takut terhadap keguncangan. Di hadapan segala bencana dan musibah, hal yang paling berguna adalah hati yang berani. Seorang pemberani memiliki sikap yang teguh dan emosi yang terkendali, keyakinan yang menancap tajam, syaraf yang dingin dan hati yang lapang. Sedangkan seorang pengecut justru akan membunuh dirinya sendiri berulang kali, setiap hari, dengan pedang khayalan, ramalan, kabar yang tak jelas, dan kasak-kusuk. Jika Anda menginginkan sebuah kehidupan yang berlandasan kuat, maka hadapilah semua permasalahan dengan keberanian dan ketabahan. Jangan terlalu mudah digoyang oleh mereka yang tidak memiliki keyakinan. 


      Jangan merasa terjepit oleh semua tipu daya mereka. Jadilah orang yang lebih kuat dari peristiwa itu sendiri, lebih kencang dari angin puyuh, dan lebih kuat dari angin topan. Sungguh kasihan mereka yang memiliki hati yang lemah, betapa hari-hari selalu mengguncang dirinya. 

{Dan, sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia).}

 (QS. Al-Baqarah: 96) 
 
Sedangkan orang-orang yang memiliki hati yang kuat akan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah dan senantiasa yakin dengan janjiNya.
{Lalu, menurunkan ketenangan atas mereka.} 


(QS. Al-Fath: 18)

"Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'"

- No comments

Petik Hikmah - Di antara perkara yang dapat melapangkan dada dan melenyapkan awan kesedihan dan kesusahan adalah berjalan menjelajah negeri dan membaca "buku penciptaan" yang terbuka lebar ini untuk menyaksikan bagaimana pena-pena kekuasaan menuliskan tanda-tanda keindahan di atas lembaran-lembaran kehidupan. Betapa tidak, karena Anda akan banyak menyaksikan taman, kebun, sawah dan bukit -bukit hijau yang indah mempesona. 


     Keluarlah dari rumah, lalu perhatikan apa yang ada di sekitar Anda, di depan mata Anda, dan di belakang Anda! Dakilah gunung-gunung, jamahlah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, reguklah air yang jernih, dan ciumkan hidungmu atas bunga mawar! Pada saat-saat yang demikian itu, Anda akan menemukan jiwa Anda benar-benar merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di angkasa kebahagiaan. Keluarlah dari rumah Anda, tutup kedua mata Anda dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas ini dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih. 


     Mengurung diri dalam kamar yang sunyi bersama kekosongan yang membahayakan merupakan cara ampuh untuk bunuh diri. Kamar Anda bukanlah alam semesta. Dan Anda biikan manusia satu-satunya di alam ini. Karena itu, mengapa Anda harus menyerahkan diri kepada "pembisikpembisik" kesusahan dan kesedihan? Tidakkah Anda sebaiknya menyatukan pandangan, pendengaran dan hati untuk menyeru kepada diri Anda sendiri, 


{Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat.} 

(QS. At-Taubah: 41) 

     Marilah sekali-kali kita membaca al-Qur'an di tepi-tepi sungai, di pinggiran hutan yang rimbun, di antara burung-burung yang sedang berkicau membaca untaian puisi cinta, atau di depan gemericik aliran air sungai yang sedang mengisahkan perjalanannya dari dari hulu ke hilir. 


     Menjelajahi pelosok-pelosok negeri merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Bahkan, para dokter sudah banyak merekomendasikan kepada mereka yang sedang stres menghadapi suatu persoalan dan tertekan oleh beratnya beban hidup, agar melepaskan semua itu dengan berjalan ke tempat-tempat indah yang tak pernah ia kunjungi. Karena itu, marilah sesekali kita berjalan menjelajah pelosok negeri untuk mencari ketenangan, bergembira, berpikir, dan sekaligus menghayati ciptaan Allah yang sangat luas ini. 


{Dan, mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau."} 

(QS. Ali 'Imran: 191

Friday, January 27, 2017

FOTO: Potret kehidupan nenek tua di gubuk berukuran 1x2 meter

- No comments




Petik Hikmah - Keberadaan seorang nenek tua, Juliah yang mengaku berumur lebih dari 80 tahun dan tinggal di Jalan Inspeksi Semarang memang banyak diperbincangkan. Bagaimana tidak, puluhan tahun nenek itu tinggal di sebuah gubuk yang hanya berukuran sekitar 1x2 meter di pinggir jalan. Tempat yang sangat tidak layak untuk dihuni, sebab tak jauh beda dari kandang ayam.

Tak jauh dari tempat itu, ada juga seseorang bernasib sama. Seorang nenek tua bernama Sudarmi (80) yang juga tinggal di sebuah gubuk kecil dari papan-papan bekas dengan atap terpal. Entah apa yang dirasakannya saat hujan melanda di malam hari.
Setelah sempat viral di media sosial, pada Jumat (27/1), petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Semarang Tengah dan sejumlah perangkat dari Kelurahan Kranggan mendatangi mereka. Kedatangan petugas tersebut untuk mendata dan mengajak pindah ke Panti Jompo Margo Widodo Pedurungan.
"Kami dari TKSK mengajak beliau untuk pindah ke tempat yang lebih layak," ujar Solikin selaku petugas TKSK.

Namun, petugas tidak bisa langsung memindah mbah Juliah dan Sudarmi sebab mereka masih memiliki anak sehingga harus mendapatkan persetujuan dari keluarga atau anak-anaknya. Turdoniah, anak dari Juliah mengaku tidak keberatan ibunya dipindah. Namun ia pun masih harus membahas dulu dengan adiknya.

Tedi anak dari Sudarmi pun mengatakan hal sama. Terkait hal itu, petugas menawarkan pilihan selain dipindah ke panti. Antara lain jika memang ada keluarga yang mau menampung maka petugas akan mengantarkan sampai ke tempat tujuan. 

AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS

- No comments




AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS 

Abu Isma'il Ash-Shabuni  


Petik Hikmah -
kitab ini ditulis oleh Syaikhul Islam Abu Isma'il AshShabuni (373H - 449 H). Beliau sosok Ulama yang gigih menuntut ilmu, pada umur 10 tahun sudah menjadi juru nasehat. Imam Al-Baihaqi berkata :" Beliau adalah syaikhul Islam sejati, dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya". 


Yang ada dihadapan pembaca ini merupakan ringkasan, pembahasan yang hampir mirip tidak diulang-ulang serta tidak disebutkan para perawinya. Takhrij hadits yang ada sebagian besar merujuk kitab yang ditahqiq oleh Badar bin Abdullah Al-Badar  


KEYAKINAN ASHHABUL HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH 


[Syaikh Abu Utsman berkata]: Semoga Allah melimpahkan taufik. Sesungguhnya Ashhabul Hadits (yang berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah)-semoga Allah menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati mereka yang telah wafat-adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. 


Mereka mengenal Allah subhanahu wata'ala dengan sifatsifatnya yang Allah utarakan melalui wahyu dan kitab-Nya, atau melalui persaksian Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih yang dinukil dan disampaikan oleh para perawi yang terpercaya.


‘Aqidah Salaf Ashhabul Hadits 12
Mereka menetapkan dari sifat-sifat tersebut apa-apa yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallamshallallahu `alaihi wa sallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam 'alaihissalam dengan tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur'an:


"Allah berfirman:"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. 

(Shaad:75) 

Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnyamaksud sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan oleh Mu'tazilah dan Jahmiyyah-semoga Allah membinasakan mereka-.
Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah-semoga Allah menghinakan mereka. 


Allah subhanahu wa ta'ala telah memelihara Ahlus Sunnah dari menyimpangkan, mereka-reka atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluknya. Allah telah memberi karunia atas diri mereka pemahaman dan pengertian, sehingga mereka mampu meniti jalan mentauhidkan dan mensucikan Allah azza wa jalla. Mereka meninggalkan ucapan-ucapan yang bernada meniadakan, menyerupakan dengan makhluk. Mereka mengikuti firman Allah azza wa jalla: 

 
"tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" 

(Asy-Syuraa:11)
  
                                    Ushulus Sunnah wa I’tiqod ad-Dîn  13 


Al-Qur'an juga menyebutkan tentang "Dua tangan-Nya" dalam firman-Nya: 


"..yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.. " 

(Shaad:75) 

Dan juga firman-Nya: 


"(Tidak demikian), tetapi kedua-tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana yang Dia kehendaki"
 

(AlMaidah:64) 

Dan diriwayatkan dalam banyak hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallamshallallahu `alaihi wa sallam yang menyebutkan tangan Allah, seperti kisah perdebatan Musa dengan Adam 'alaihimassalam, tatkala Musa berkata:"Allah telah mencipta dirimu dengan tanganNya dan membuat para malaikat bersujud kepadamu" (HR. Muslim) 

Wednesday, January 25, 2017

APAKAH IMAN YANG SEMPURNA ITU?

- No comments


 APAKAH IMAN YANG  SEMPURNA ITU?


Petik Hikmah - Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.  
 (QS Al-Mu'minun, 23: 61)

Kata sifat kamil dalam bahasa Arab berarti sempurna, murni, dan lengkap.  “Iman yang sempurna”  (kamil iman) yang dibahas buku ini mewakili tingkat tertinggi kedewasaan dan kedalaman iman yang dapat dicapai seseorang.  Namun, bagaimana iman seorang mukmin tumbuh matang dan menjadi sempurna?

 “Beriman kepada Allah” adalah meresapi bahwa Allah Ialah Pencipta dan Pemilik tunggal segala sesuatu dan bahwa Dia satu-satunya Pengadil.  Itulah kepasrahan seseorang kepada Allah pada setiap saat kehidupannya; itulah menyadari bahwa manusia membutuhkanNya, bahwa Allah kaya tanpa membutuhkan, dan bahwa Dia menciptakan semua makhluk menurut suatu takdir tertentu.

 “Kepasrahan kepada Allah” menjadi mungkin hanya lewat memiliki ketakutan besar kepada Allah, terikat erat kepadaNya dan mencintaiNya melebihi apa pun atau siapa pun.  Orang yang memasrah diri kepada Allah, dalam pengertian yang sesungguhnya, mengangkat hanya Allah sebagai sahabat karibnya.  Sepanjang hidup ia mengetahui bahwa tiap kejadian yang ditemuinya terjadi atas kehendak Allah dan bahwa di balik setiap kejadian itu, ada maksud-maksud ilahiah tertentu.  Karena alasan ini, tidak pernah ia menyeleweng dari sikap pasrahnya dan selalu ia tetap taat dan bersyukur kepada Allah. 
Untuk meraih iman yang sempurna, orang perlu taat sebenar-benarnya mengikuti perintah-perintah Qur'an, wahyu Allah lewat mana Dia memperkenalkan diriNya dan menyampaikan perintah kepada hamba-hambaNya.  

 Karena alasan ini, mukmin memberikan perhatian sepenuh-penuhnya dalam mematuhi batasan-batasan Allah hingga hari ia wafat.  Sepanjang hidup ia memperlihatkan sifat-sifat mukmin sejati tanpa lari dari kesabaran.  Ketabahan yang ditunjukkan orang yang beriman sempurna dalam hidup dengan nilai-nilai Qur'an merupakan suatu sifat yang sangat penting dan khusus.  Sebab, dengan sifat inilah orang yang beriman sempurna mengungguli orang-orang lain dalam upaya berbuat kebajikan.  Qur'an juga merujuk ke mereka “yang lebih dahulu berbuat kebaikan”  (QS Fathir, 35: 32) dalam upaya memperoleh rida Allah.  Akan tetapi, Qur'an juga merujuk ke mereka yang tidak sepenuhnya hidup berdasarkan agama:  “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi…”  (QS Al-Hajj, 22: 11)

Di sini tampak ciri khas iman yang sempurna.  Mereka yang tidak memeluk keimanan sepenuh hati memuja Allah tepat di “tepi terpinggir”, sementara orang-orang beriman sempurna mengambil Qur'an sebagai panduan penting bagi diri di setiap saat kehidupan.  Sementara mereka yang tidak tulus menuntut syarat-syarat tertentu demi menjaga keimanan, mereka yang beriman sempurna sungguh-sungguh tanpa syarat dalam ketaatannya.  Kelompok pertama tetap mengabdi pada agama dan berpura-pura memperlihatkan nilai-nilai yang dipuji oleh Qur'an sepanjang mereka merasakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada mereka dan semua berjalan sesuai dengan keinginan mereka.  Namun, kapan saja kehilangan nikmat atau musibah menimpa, mereka segera berpaling dari atau menunjukkan ketidaktaatan pada agama.   

Akan tetapi, orang yang beriman sempurna menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan pada iman dan kesetiaan mereka.  Daya pendorong dasar di balik tekad ini adalah “iman yang terjaga” mereka.  “Iman yang terjaga” adalah pengakuan sebenar-benarnya keberadaan Allah dan hari kemudian dengan kearifan, hati dan nurani.  Mukmin yang memiliki sifat bawaan ini dilukiskan dalam Qur'an sebagai “mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”  (QS Al-Baqarah, 2: 4)  

   Iman yang sempurna mewujud diri melalui terus-menerus memperhatikan nurani seseorang.  Nurani adalah sifat kejiwaan yang membangkitkan sikap baik dan pikiran terpuji, dan membantu manusia berpikir lurus dan membedakan yang benar dari yang salah.  Seorang yang beriman sempurna menyimak suara nuraninya dalam keadaan apa pun.  Kecenderungan sedemikian memastikan akhlak dan sikap yang sejalan dengan Qur'an.  Nabi Muhammad SAW menunjukkan pentingnya nurani dengan cara berikut:

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW:  Apakah iman itu?  Beliau menjawab:  Ketika perbuatan baik menjadi sumber kebahagiaan bagimu dan perbuatan jahat menjadi sumber kejijikan bagimu, maka engkau mukmin.  Laki-laki itu lalu menanyai Rasulullah SAW:  Apakah dosa itu?  Untuk mana beliau menjawab:  Ketika sesuatu mengganggu nuranimu, hentikanlah.  (Ahmad)

   Dari pilihan-pilihan yang dihadapinya, mukmin memilih sikap dengan mana, ia berharap, Allah akan rida.  Ia tidak pernah menyerah kepada hawa nafsunya.  Kesulitan-kesulitan yang dihadapinya selagi menunjukkan sikap mulia ini tidak membuatnya merasa kecewa.  Ia tidak mengorbankan sikap yang paling patut karena dikuasai oleh keinginan sesaat dan hasrat nafsunya.

   Sebuah contoh dari kehidupan sehari-hari akan membuat jelas hal ini.  Mari kita beranggapan bahwa sebuah pabrik besar sedang terbakar.  Dikepung oleh musibah seperti itu, si pemilik pabrik dihadapkan kepada banyak pilihan.  Ia bisa, misalnya, tinggal di dalam dan, dengan menggerakkan para pekerjanya, berjuang memadamkan api.  Jalan lain adalah meninggalkan gedung dan menyelamatkan diri sendiri tanpa memberitahu para pekerjanya.  Atau, ia bisa melakukan segalanya untuk menyelamatkan semua pekerja sambil memanggil dinas pemadam kebakaran.

   Semua pilihan ini akan tampak beralasan dari sudut pandang yang berbeda-beda.  Akan tetapi, nurani membimbing orang ini ke pilihan yang akan paling menyenangkan Allah.  Iman yang sempurna adalah iman seseorang yang tanpa syarat menganggap bahwa sikap yang paling mulia adalah sikap yang dipandu oleh nuraninya, tanpa merasakan penyesalan atau kekecewaan sekecil apa pun.

Kenalilah, Ini Ciri-ciri Orang Sombong Disekitar Kita

- No comments
 Kenalilah, Ini Ciri-ciri Orang Sombong Disekitar Kita


Petik Hikmah - Salah satu akhlak yang merupakan pangkal dari keburukan ialah sombong atau takabbur. Dikatakan pangkal keburukan ialah karena sombong akan mengantarkan manusia pada suatu kebiasaan menuju pada perbuatan tercela.

     Sebab kesombongan itu hanya dimiliki Iblis laknatullah. Manusia tidak pantas memiliki sifat sombong. Orang yang mempunyai sifat sombong cenderung berbuat kejahatan dalam bentuk memperkosa keberanian dan melangar hak-hak makhluk lain.
Contoh orang sombong apabila di ajak berdiskusi untuk memusyawarahkan masalah dalam mencapai kebenaran, maka tidak mungkin dia menegakkan kebenaran itu sendiri.

     Sebab orang yang demikian ini menonjolkan pikirannya. Buah pikirannya, saran dan idenya dianggap lebih benar, lebih baik daripada ide atau pendapat orang lain. Jika engkau melihat orang yang sombong, maka akan engkau temui ciri-ciri nyata sebagai berikut (pasti ada salah satu di antaranya):

1. Orang yang sombong lebih cenderung untuk lebih tinggi dari majelis. Sedangkan orang lain direndahkan, bahkan dianggap sebagai pelengkap saja.

2. Orang yang sombong mempunyai kecenderungan untuk mendahului orang lain jika jalan bersamaan. Sebab tidak mau di belakangi orang lain.

3. Orang bersifat sombong, selalu memandang orang lain dengan pandangan meremehkan. Jika ia tidak di beri  salam terlebih dahulu maka ia akan sakit hati (marah). Ia akan tersinggung jika keperluaan dan kehormatannya/ harga dirinya di kurangi.

4. Orang yang bersifat sombong akan cenderung merasa tak suka jika di beri nasehat, dan membenci pada orang yang memberi nasehat. Orang tersebut mersa lebih tahu dan pintar.

5. Orang sombong, apabila memberi nasehat atau mengajar ilmu, menunjukan atau menjelaskan sesuatu, maka sikapnya kasar dan suka membentak-bentak pada orang yang di nasehati. Kebiasaan ini tujuannya supaya orang lain mendengar bahwa dia lagi memberikan nasehat.

6. Orang yang sombong jika bertukar pikiran, maka selalu berusaha agar buah pikirnya di terima/dipakai. Ia bahkan memaksa kebenaran atau mempekorsa kebenaran demi buah kepikiranya dihargai orang lain. Walaupun ada pendapat orang lain yang lebih baik daripada pendapatnya.

7. Orang yang sombong, jika memandang orang awam, maka pandanganya kecil, mengangap yang di pandang itu adalah seekor kedelai. Maksudnya selalu meremehkan orang lain.

Demikianlah sahabat bacaanmadani ciri-ciri orang yang sombong, mudah-mudahan kita di lindungi oleh Allah swt. dari sifat-sifat orang sombong. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Sumber: bacaanmadani.com